dewipadma

Just another WordPress.com site

WASPADA MASTITIS…. 21 September 2011

Filed under: MAKALAH — Theywiq padma @ 2:59 PM
Tags:

MASTITIS

1.1       Pengertian Mastitis

            Mastitis merupakan istilah medis untuk peradangan payudara. Gejalanya antara lain payudara memerah, terasa sakit serta panas dan membengkak. Bila semakin parah, maka suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 38oC dan timbul rasa lelah yang sangat (NN, 2009).

            Para wanita yang baru pertama kali menyusui cenderung lebih sering terkena mastitis. Mastitis ini dapat terjadi kapan saja sepanjang periode menyusui, tapi paling sering terjadi antara hari ke-10 dan hari ke-28 setelah kelahiran (Sumber: http://www.lusa.web.id). Tidak jarang mastitis dibarengi oleh kanker payudara, yang menyebabkan jalannya penyakit menjadi lebih cepat (Sarwono, 2008: 482).

                        ASKEB MASTITIS KLIK SNI YAH….🙂

1.2       Jenis-jenis mastitis

            Pada umumnya, terdapat dua jenis mastitis (NN, 2009): infektif dan non-infektif.

1.2.1    Infektif mastitis diakibatkan oleh kuman yang masuk ke saluran air susu di puting payudara melalui perantaraan mulut atau hidung bayi saat menyusui.

1.2.2    Non infektif mastitis terjadi karena antara lain saluran air susu yang tersumbat atau juga karena posisi menyusui yang salah.

            Mastitis lazim dibagi dalam (1) mastitis gravidarum, dan (2) mastitis puerperalis, karena memang penyakit ini boleh dikatakan hampir selalu timbul pada waktu hamil dan laktasi (Sarwono, 2008: 482).

            Berdasarkan tempatnya (Sarwono, 2007: 701) dapat dibedakan:

1.2.1    Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae.

1.2.2    Mastitis di tengah-tengah mamma yang menyebabkan abses di tempat itu.

1.2.3    Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mamma dan otot-otot di bawahnya.

1.3       Penyebab Mastitis

            Pada umumnya yang dianggap porte d’entrée dari kuman penyebab ialah puting susu yang luka atau lecet, dan kuman per kontinuitatum menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Sebagian besar yang ditemukan pada pembiakan pus ialah Staphylococcus aureus (Sarwono, 2008: 482).

            Dari sumber lain (Sumber: http://www.lusa.web.id) didapatkan, penyebab mastitis adalah sebagai berikut :

            1.3.1    Payudara bengkak yang tidak disusukan secara adekuat.

            1.3.2    Bra yang terlalu ketat.

            1.3.3    Puting susu lecet yang menyebabkan infeksi.

            1.3.4    Asupan gizi kurang, istirahat tidak cukup dan terjadi anemia.

1.4       Gejala Mastitis

            Terjadi bendungan ASI merupakan permulaan dari kemungkinan infeksi mamae. Infeksi pada mamae dapat menimbulkan demam, nyeri local pada mamae, terjadi pemadatan mamae, dan terjadi perubahan warna kulit mamae. Infeksi mamae (mastitis) dapat berkelanjutan menjadi abses dengan kriteria warna kulit menjadi merah, terdapat rasa nyeri, dan pada pemeriksaan terdapat pembengkakan, di bawah kulit teraba cairan (Manuaba, 1998: 317).

 

1.5       Pencegahan Mastitis

                        Perawatan puting susu pada waktu laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan putting susu sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu, yang memberi pertolongan kepada ibu yang menyusui bayinya harus bebasa dari infeksi stafilokokkus (Sarwono, 2007: 701).

                        Pencegahan yang dilakukan antara lain dengan:

            1.5.1    Pengurutan payudara sebelum laktasi merupakan salah satu tindakan yang sangat efektif untuk menghindari terjadinya sumbatan pada duktus.

            1.5.2    Usahakan untuk selalu menyusui dengan posisi dan sikap yang benar. Kesalahan sikap saat menyusui dapat menyebabkan terjadinya sumbatan duktus. Menggunakan penyangga bantal saat menyusui cukup membantu menciptakan posisi menyusui yang lebih baik (Sumber: http://www.parentsguide.co.id).

            1.5.3    Susui bayi segera dan sesering mungkin. Bila payudara terasa penuh, segera keluarkan dengan cara menyusui langsung pada bayi. Kalaupun bayi belum lapar, keluarkan ASI dengan cara diperah atau dipompa sehingga pengeluaran ASI tetap lancar.

            1.5.4    Jangan membersihkan puting dengan sabun. Kandungan soda pada sabun dapat membuat kulit menjadi kering sehingga mudah terjadi iritasi seperti lecet atau luka bila disusu bayi.

            1.5.5    Pilih bra khusus untuk ibu menyusui dengan bahan yang menyerap keringat. Jangan gunakan bra yang terlalu menekan payudara. Demi menjaga higienitas daerah payudara, ganti bra sesering mungkin setiap kali basah karena keringat atau setelah dipakai seharian (Dedeh Kurniasih, 2010).

1.6       Penanganan Mastitis

                        Bidan sebagai tenaga medis terdepan di tengah masyarakat dapat meningkatkan usaha preventif dan promotif  payudara dengan jalan mengajarkan pemeliharaan payudara, cara memberikan ASI yang benar, memberikan ASI jangan pilih kasih, kanan dan kiri harus sama perlakuannya dan diberikan sampai payudara kempes. Dalam menghadapi bendungan ASI dan mastitis atau abses mamae, bidan sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter (Manuaba, 1998: 317).

                        Pencegahan mastitis yang lain diantaranya:

1.6.1    Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari. Bila diberikan sebelum terbentuk abses biasanya keluhannya akan berkurang.

1.6.2    Sangga payudara.

1.6.3    Kompres dingin

1.6.4    Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.

1.6.5    Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan (Sarwono, 2007: 263).

            1.6.6    Bila tidak tahan nyeri, dapat meminum obat penghilang rasa sakit. Biasanya rasa demam dan nyeri itu akan hilang dalam dua atau tiga hari.

            1.6.7    Istirahat yang cukup amat diperlukan agara kondisi tubuh ibu kembali sehat dan segar.

            1.6.8    Makan makanan yang bergizi tinggi sangatlah dianjurkan.

            1.6.9    Minum banyak air putih juga akan membantu menurunkan demam (Sumber: http://www.conectique.com).

            1.6.10  Tetap berikan ASI kepada bayi, terutama gunakan payudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang (Sumber: http://www.parentsguide.co.id).

            1.6.11  Jangan lakukan pemijatan karena dikhawatirkan justru membuat kuman tersebar ke seluruh bagian payudara dan menambah risiko infeksi.

1.6.12  Bayi masih boleh menyusu kecuali bila terjadi abses. Kalau demikian keadaannya, untuk mengurangi bengkak, ASI harus tetap dipompa keluar. Bayi sebaiknya tetap menyusu pada payudara yang tak terinfeksi (Dedeh Kurniasih, 2010).

1.7       Penanganan abses

            Dalam keadaan abses mamae perlu dilakukan insisi agar nanahnya dapat dikeluarkan untuk mempercepat kesembuhan (Manuaba, 1998: 317).  Sesudah itu dipasang pipa ke tengah abses, agar nanah bisa keluar terus. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus itu (Sarwono, 2007: 701).  Pengalaman menunjukkan bahwa drainase ini sesudah 72 jam bertukar sifat menjadi kebocoran air susu yang tidak sedikit melalui luka insisi. Dianjurkan memakai perban elastic yang ketat pada payudara, untuk menghentikan laktasi (Sarwono, 2008: 482).

            Pada persiapan insisi, kulit di atas abses akan dibersihkan oleh swabbing lembut dengan larutan antiseptik. Pada tahap rehabilitasi, sebagian besar sakit di sekitar abses akan lenyap sesudah pembedahan. Penyembuhan biasanya sangat cepat. Setelah tabung diambil keluar, antibiotik dapat dilanjutkan untuk beberapa hari. Menerapkan panas dan menjaga wilayah yang terkena dampak ditinggikan dapat membantu meringankan peradangan (sumber: http://galemedicine. blogspot.com).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s